Perkuat Sinergitas, BBPOM di Denpasar mengadakan Bimtek Pengendalian Resistensi Antimikroba

10-11-2025 Balai Besar/Balai POM Dilihat 216 kali

Pada hari Senin, 10 November 2025 Balai Besar POM di Denpasar melaksanakan kegiatan Bimtek Pengendalian Resistensi Antimikroba di Aula Bima Balai Besar POM di Denpasar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung pencapaian program sasaran strategis Badan POM maupun implementasi rencana aksi pada peta jalan pengendalian AMR di lingkungan Badan POM dan untuk meningkatkan kompetensi teknis apoteker penanggung jawab di sarana pelayanan kefarmasian khususnya Apotek. Kegiatan ini  juga diharapkan dapat memastikan penyerahan obat kepada masyarakat diterapkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga masyarakat dapat terlindungi dari penggunaan obat keras yang tidak rasional, tidak tepat terapi dan indikasi serta untuk mendukung program pengendalian resistensi antimikroba.

Peserta kegiatan Bimtek sebanyak 30 orang terdiri dari pelaku usaha di bidang obat (Apoteker Penanggung Jawab Apotek), perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Ketua PD IAI Bali, Ketua PC IAI Kabupaten Badung dan Ketua PC IAI Kabupaten Tabanan. Acara Bimtek dibuka oleh Kepala BBPOM di Denpasar, Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, Apt dilanjutkan dengan Pre-Test dan penyampaian materi “Bimtek Pengendalian Resistensi Antimikroba” oleh PFM Ahli Madya BBPOM Di Denpasar, Ni Made Anggasari, S.Si., Apt.

Berdasarkan laporan hasil pengawasan BBPOM Di Denpasar periode Januari sampai Oktober 2025, dari 60 apotek yang diperiksa, 46,7% menyerahkan  antibiotik dengan resep dokter, 21,6% menyerahkan  antibiotik tanpa resep dokter, 11,6% sebagian kecil dengan resep dokter, dan 20% sebagian besar dengan resep dokter.

Dalam akhir paparannya, narasumber menggarisbawahi beberapa hal terkait pengendalian AMR yaitu: Upaya pengendalian resistensi antimikroba memerlukan kolaborasi dan sinergi semua pihak, Pemerintah pusat maupun daerah, sektor swasta, tenaga kesehatan, dan masyarakat berbagi peran melalui strategi One Health Approach, peran tenaga kesehatan dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba adalah rasionalitas peresepan dan pengelolaan antimikroba sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan yang paling penting adalah edukasi kepada masyarakat karena saran dan masukan tenaga kesehatan sangat dijadikan acuan dalam pengobatan masyarakat sehingga masyarakat bijak dalam menggunakan antibiotik.

Acara dilanjutkan dengan diskusi, dan  Post-Test. Dari hasil evaluasi semua peserta berhasil lulus dengan hasil yang memuaskan. Acara ditutup oleh PFM Ahli Madya, Ni Made Anggasari, S.Si.,Apt dengan harapan semoga dengan terselengaranya Bimtek Pengendalian Resistensi Antimikroba diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan peran serta Apoteker Penanggung Jawab Apotek dalam kegiatan pengendalian resistensi antikroba melalui kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek. QQ

Sarana