Pastikan Program Berkelanjutan: BBPOM Denpasar Segarkan Kembali Semangat Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di Tabanan

19-08-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 144 kali

Layar Zoom pagi itu dipenuhi wajah penuh semangat: kepala sekolah dan kader keamanan pangan dari 13 sekolah se-Kabupaten Tabanan, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, berkumpul dalam satu ruang virtual yang sama, Rabu (19/8/2026). Bukan pertemuan biasa, melainkan babak lanjutan dari perjalanan panjang yang dimulai setahun sebelumnya, ketika Balai Besar POM (BBPOM) di Denpasar pertama kali mengintervensi sekolah-sekolah ini agar membudayakan keamanan pangan di lingkungan mereka.

Pertanyaannya sederhana namun krusial: setelah pelatihan usai dan tim BBPOM tak lagi hadir setiap hari, apakah kebiasaan baik itu benar-benar bertahan? Untuk menjawabnya, digelarlah kegiatan Refreshing Materi Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) — sebuah bentuk pengawalan agar kompetensi Kader Keamanan Pangan Sekolah yang telah dilatih tidak luntur dimakan waktu, dan program yang telah dibangun tetap berjalan berkelanjutan, bukan sekadar formalitas satu kali intervensi.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala BBPOM di Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa, S.Si., Apt., MPPM, didampingi Ketua Tim Kerja PJAS, Ibu Riana. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa menjaga keamanan pangan jajanan anak sekolah bukan pekerjaan yang selesai begitu pelatihan berakhir, melainkan komitmen jangka panjang yang butuh terus disegarkan dan dipantau bersama.

Dua materi inti mengisi paruh pertama acara: Kebijakan Keamanan Pangan PJAS, yang mengupas arah kebijakan terbaru dalam pengawasan jajanan anak sekolah, serta Pedoman PJAS dan Keamanan Pangan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) — materi yang terasa sangat relevan mengingat program MBG tengah gencar berjalan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, termasuk di Tabanan.

Namun momen yang paling dinanti datang lewat sesi Sharing Session bersama Komang Mudarka, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kintamani, Bangli. Bukan narasumber dari BBPOM, melainkan sesama praktisi pendidikan yang berbagi cerita nyata bagaimana sekolahnya berhasil membudayakan keamanan pangan sehari-hari. Format sharing dari sesama sekolah ini justru terasa lebih membumi — bukti bahwa perubahan bisa ditularkan bukan hanya lewat instruksi dari atas, tapi juga lewat cerita sukses sesama rekan pendidik yang telah membuktikannya lebih dulu.

Sesi diskusi yang mengalir hangat menjadi penutup rangkaian, tempat kepala sekolah dan kader saling bertukar tantangan dan solusi yang mereka hadapi di lapangan — mulai dari mengedukasi penjual jajanan di sekitar sekolah, hingga menjaga konsistensi pengawasan di tengah kesibukan aktivitas sekolah sehari-hari.

Keamanan pangan bukan proyek sekali jalan, melainkan kebiasaan yang harus terus dijaga apinya tetap menyala.

Melalui kegiatan pengawalan seperti ini, BBPOM di Denpasar berharap sekolah-sekolah di Tabanan yang telah diintervensi dapat terus menjadi contoh, bukan hanya bagi murid-muridnya, tetapi juga bagi sekolah lain yang belum menerapkan budaya keamanan pangan secara konsisten — memastikan setiap jajanan yang sampai ke tangan anak-anak benar-benar aman, bermutu, dan bergizi.

Sarana