Focus Group Discussion “Perbaikan Tata Kelola Rantai Pasok Babi Menuju Praktik yang Mengintegrasikan Pendekatan One Health ang Welfare” Kamis, 8 Oktober 2026, di Four Star by Trans Hotel.
BBPOM Di Denpasar turut hadir dalam rangka mendukung tata Kelola rantai pasok babi dari aspek keamanan pangan. Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali bekerja sama dengan Yayasan Sintesia Animalia Indonesia melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ke-2 sebagai forum untuk memperdalam permasalahan di lapangan serta merumuskan Langkah-langkah perbaikan tata Kelola rantai pasok babi yang lebih tertib, sehat, aman dan dapat diterapkan secara cepat.
Pertemuan dihadiri oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian RI, Perwakilan Komisi 1 dan 2 DPRD Provinsi Bali, Kelompok Ahli, Akademisi dari Fakulktas Universitas Gadjah Mada dan Udayana di bidang Peternakan dan Kedokteran Hewan, para Bendesa Madya Majelis Desa Adat serta lintas sektor terkait.
Pertemuan kali ini diisi dengan pemaparan materi oleh Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, dengan judul One Health and Welfare dalam rantai pasok Babi, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Tirta Ariana, MS., IPU, ASEAN.Eng Dekan Fakultas Peternakan Universitas Udayana dengan judul Budidaya Babi yang Baik dan Pelestarian Babi Bali, dan Drh. Wayan Wiryawan dari Asosiasi Praktisi Industri Babi Nusantara dengan judul Tranformasi Ekosistem Peternakan dan Pengelolaan Limbah Industri Peternakan di Bali.
Pemaparan materi dilanjutkan dengan diskusi yang difokuskan pada penerapan Pig Welfare/ kesejahteraan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, penataan fasilitas pemotongan babi yaitu Rumah Potong Hewan (RPH), keamanan pangan, pengelolaan limbah, ketertelusuran, pengawasan, serta pembagian peran para pemangku kepentingan dalam tata kelola rantai pasok babi di Provinsi Bali.
FGD tidak berhenti pada kesepakatan dan rekomendasi, namun memastikan bahwa pelaku usahan mulai dari peternak, pengangkut, fasilitas pemotongan, pengolahan hingga distribusi produk, pemerintah, masyarakat termasuk desa adat dan akademisi memiliki peran yang jelas dalam membangun satu ekosistem rantai pasok babi Bali. Dalam jangka menengah harus dibangun sistem sehingga Bali mampu menerapkan One Health and Welfare secara berkelanjutan. Mari kita wujudkan ternak yang sejahtera seiring dengan peternak sejahtera, usaha tertib, masyarakat terlindungi, lingkungan terjaga sehingga perekonomian di Bali semakin kuat.
BBPPOM di Denpasar siap berkolaborasi untuk menegaskan komitmen kuat pemerintah untuk mengawal rantai pasok babi dari hulu ke hilir. Melalui pengawasan mutu yang ketat, langkah ini diharapkan mampu memastikan produk yang beredar di masyarakat terjamin aman dan bermutu sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian Bali secara berkelanjutan.