Demi Produk yang Lebih Aman, 15 Analis BBPOM Denpasar Kuasai Metode Baru Deteksi Pengawet lewat KCKT PDA

25-09-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 131 kali

Denpasar, 21 September 2026 — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar menggelar Bimbingan Teknis Pengujian Laboratorium OBASKKKOS (Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan, Kuasi, dan Kosmetik), berlangsung selama lima hari penuh mulai Senin (21/9/2026) hingga Jumat (25/9/2026). Bertempat di Laboratorium Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan, Kuasi dan Kosmetik BBPOM di Denpasar, kegiatan ini diikuti oleh 15 personel laboratorium yang siap mengasah kemampuan teknis mereka langsung dari ahlinya.

Bimtek kali ini mengangkat topik yang cukup spesifik namun krusial: "Identifikasi dan Penetapan Kadar Pengawet dalam Obat Bahan Alam dan Suplemen Kesehatan Sediaan Oral secara KCKT PDA", mengacu pada metode analisis bernomor 05/OBASK/MA-PPPOMN/26. Sebagai narasumber, hadir langsung Dona Fitria, S.Si., M.Si., dari Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), yang berbagi ilmu dan pengalaman langsung kepada para peserta.

Di balik judul teknisnya yang terdengar rumit, bimtek ini sesungguhnya lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Selama ini, pengujian pengawet pada obat bahan alam dan suplemen kesehatan kerap menemui kendala pada tahap preparasi sampel menggunakan metode Solid Phase Extraction (SPE) — proses yang tidak hanya memakan waktu dan tenaga lebih, tetapi juga menuntut bahan dan biaya tambahan, dengan risiko senyawa target tidak muncul atau memberikan respons kurang optimal.

Kehadiran metode analisis baru ini diharapkan menjadi jawaban atas kendala tersebut, menyederhanakan tahapan preparasi sampel sehingga proses pengujian dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Meski begitu, penerapan metode baru bukan berarti tanpa tantangan — penguasaan menyeluruh tetap dibutuhkan, mulai dari prinsip metode, preparasi sampel, kondisi instrumen, proses pemisahan, identifikasi, penetapan kadar, hingga evaluasi hasil pengujian.

Pengujian pengawet ini bukan perkara sepele. Parameter ini merupakan bagian dari uji mutu yang dapat masuk dalam pengawasan Cluster A, B, maupun C, tergantung hasil decision tree dan parameter yang dipersyaratkan pada tiap sampel. Artinya, kemampuan laboratorium dalam menguasai pengujian ini menjadi salah satu kunci agar cakupan parameter pengujian pada berbagai cluster pengawasan dapat terpenuhi secara optimal, sejalan dengan berkembangnya pedoman sampling dan prioritas pengawasan yang terus diperbarui.

Yang menarik, penyelenggara menegaskan bahwa keberhasilan bimtek ini tidak cukup diukur dari terselenggaranya pelatihan semata. Justru tantangan sesungguhnya ada setelahnya: bagaimana ilmu dan keterampilan yang diperoleh benar-benar ditindaklanjuti, dipraktikkan, dan diterapkan secara konsisten oleh masing-masing personel di laboratorium sehari-hari. Karena itu, peserta didorong aktif berdiskusi dan terbuka menyampaikan kendala yang selama ini mereka hadapi di lapangan, agar transfer ilmu dari narasumber benar-benar tuntas dan aplikatif.

Melalui bimbingan teknis ini, BBPOM di Denpasar berharap kemampuan laboratoriumnya semakin kuat dan cakupan pengujian semakin luas. Pada akhirnya, penguatan kompetensi teknis semacam ini bukan hanya soal kemampuan internal laboratorium, melainkan juga investasi nyata untuk mendukung pengawasan mutu dan keamanan obat bahan alam serta suplemen kesehatan yang beredar — demi melindungi masyarakat dari produk yang tidak memenuhi standar. (BIA)

Sarana