Denpasar – Pernahkah kita membeli makanan atau minuman hanya karena kemasannya menarik, rasanya enak, atau sedang viral? Padahal, ada satu hal penting yang sering terlupakan sebelum memasukkan produk ke keranjang belanja: membaca label pangan.
Melalui label pangan, masyarakat dapat mengenali berbagai informasi penting mengenai produk yang akan dikonsumsi, salah satunya Informasi Nilai Gizi (ING). Dengan membiasakan membaca ING, konsumen dapat mengetahui jumlah zat gizi dalam pangan olahan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing.
Kenali GGL: Gula, Garam, dan Lemak
Salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan pada Informasi Nilai Gizi adalah kandungan Gula, Garam (Natrium), dan Lemak (GGL).
G – Gula
Perhatikan berapa gram gula yang terkandung dalam setiap takaran saji.
G – Garam/Natrium
Jangan hanya mencari tulisan “garam”. Pada tabel gizi, kandungan garam ditampilkan sebagai natrium. Perhatikan jumlah natrium dalam miligram per takaran saji.
L – Lemak
Cermati jumlah lemak total dalam gram pada setiap takaran saji.
Ketiga komponen tersebut penting diperhatikan karena konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
Jangan terkecoh dengan ukuran kemasan!
Hal lain yang tak kalah penting adalah memperhatikan takaran saji dan jumlah sajian per kemasan.
Satu kemasan belum tentu sama dengan satu takaran saji. Jika satu kemasan berisi beberapa sajian dan seluruhnya dikonsumsi, maka jumlah energi dan zat gizi yang masuk ke tubuh juga akan lebih besar sesuai jumlah sajian yang dikonsumsi.
Karena itu, sebelum membeli atau mengonsumsi pangan olahan, cek dulu takaran saji, jumlah sajian per kemasan, kemudian lihat kandungan GGL-nya.
Ada Nutri-Level, Belanja Jadi Lebih Mudah!
Untuk membantu konsumen memahami profil gizi dengan lebih cepat, kini masyarakat juga perlu mengenal Nutri-Level.
Nutri-Level merupakan informasi pada bagian depan kemasan yang memberikan gambaran mengenai kandungan gula, garam/natrium, dan lemak total suatu pangan olahan. Sistem ini menggunakan empat level, yaitu A, B, C, dan D, sehingga informasi gizi dapat dikenali secara lebih sederhana.
Secara sederhana:
🟢 A – Hijau tua
Kandungan GGL lebih rendah.
🟢 B – Hijau muda
Kandungan GGL rendah.
🟡 C – Kuning
Perlu dikonsumsi dengan bijak.
🔴 D – Merah
Perlu dibatasi sesuai kebutuhan atau kondisi kesehatan.
Semakin tinggi levelnya, bukan berarti produk tersebut otomatis “berbahaya” atau “tidak boleh dikonsumsi”. Nutri-Level merupakan alat bantu agar konsumen dapat lebih mudah mengenali profil kandungan GGL dan memilih pangan sesuai kebutuhan.
ING dan Nutri-Level: Jangan Pilih Salah Satu
Masyarakat tidak perlu bingung antara Informasi Nilai Gizi dan Nutri-Level.
ING memberikan informasi lebih lengkap, sedangkan Nutri-Level membantu memberikan gambaran yang lebih cepat dan sederhana mengenai kandungan GGL.
Keduanya dapat digunakan bersama sebagai bekal untuk menjadi konsumen yang lebih cerdas.
Yuk, biasakan 4 langkah sederhana sebelum membeli!
🔎 Kenali zat gizi dan komponen nongizi pada label.
📖 Baca Informasi Nilai Gizi.
🥄 Perhatikan takaran saji dan jumlah sajian per kemasan.
🟢🟡🔴 Manfaatkan Nutri-Level untuk memahami profil GGL dengan lebih cepat.
Karena memilih pangan bukan hanya soal enak, tetapi juga soal memahami apa yang kita konsumsi.
Mari menjadi konsumen cerdas dengan prinsip:
“Cek Labelnya, Pahami Informasinya, Pilih Sesuai Kebutuhan!”
Badan POM sendiri terus mendorong edukasi masyarakat agar semakin terbiasa membaca Informasi Nilai Gizi dan membuat pilihan pangan yang lebih bijak.