BBPOM di Denpasar Perkuat Pelayanan Publik Inklusif melalui Komunikasi Efektif

29-09-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 136 kali

Denpasar – 29 September 2026, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik yang inklusif, ramah, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Pelayanan Publik bagi Kelompok Rentan secara luring dan daring dengan tema “Komunikasi Efektif Dukung Pelayanan Publik Inklusif”.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya BBPOM di Denpasar dalam meningkatkan kompetensi petugas pelayanan, khususnya dalam membangun komunikasi yang efektif, empatik, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok rentan. Narasumber adalah personal yang profesional, fasilitator pelayanan inklusif Kemendikbud, Guru SLB 2 Denpasar, Ni Made Suriwati.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala BBPOM di Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa. Dalam sambutannya, Kepala BBPOM di Denpasar menegaskan bahwa pelayanan publik bukan sekadar menjalankan tugas dan memenuhi prosedur, melainkan merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memenuhi hak masyarakat, memberikan kemudahan, serta membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah.

“Pelayanan publik yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa cepat kita melayani, tetapi juga tentang seberapa mampu kita memastikan bahwa setiap orang dapat mengakses dan memperoleh pelayanan secara mudah, nyaman, aman, dan bermartabat,” tegasnya.

Menurutnya, setiap masyarakat memiliki karakteristik, kebutuhan, kemampuan, dan kondisi yang berbeda-beda. Kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya memerlukan perhatian dan pendekatan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Oleh karena itu, pelayanan publik yang inklusif harus mampu memberikan kesempatan dan akses yang setara kepada seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.

Komunikasi Efektif sebagai Kunci Pelayanan Inklusif

Komunikasi menjadi aspek penting dalam menentukan kualitas pelayanan publik. Cara petugas menyapa, mendengarkan, menyampaikan informasi, memberikan arahan, hingga merespons keluhan akan memengaruhi pengalaman masyarakat dalam menerima pelayanan.

Dalam pelayanan kepada kelompok rentan, petugas dituntut memiliki kepekaan, kesabaran, empati, serta kemampuan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan setiap individu.

Bagi masyarakat lanjut usia, misalnya, petugas perlu menyampaikan informasi secara jelas, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, serta memberikan waktu yang cukup agar informasi dapat diterima dengan baik.

Sementara itu, dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas, petugas perlu mengedepankan sikap menghormati, tidak berasumsi terhadap keterbatasan seseorang, serta memastikan metode komunikasi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan media komunikasi yang aksesibel, seperti tulisan, bahasa isyarat, maupun sarana pendukung lainnya, menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan yang mudah diakses. ( EK)

Komunikasi yang ramah, tenang, dan solutif juga diperlukan ketika menghadapi masyarakat yang mengalami kesulitan atau kebingungan dalam memperoleh layanan. Petugas diharapkan mampu memberikan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami tanpa menambah beban bagi masyarakat.

“Komunikasi yang inklusif bukan tentang memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, melainkan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk memahami dan mengakses pelayanan sesuai dengan kebutuhannya,” demikian penekanan dalam sambutan Kepala BBPOM di Denpasar.

Membangun Empati dan Budaya Pelayanan Inklusif

Melalui pelatihan ini, terdapat tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian seluruh pelaksana pelayanan di lingkungan BBPOM di Denpasar, yaitu membangun empati dalam setiap interaksi pelayanan, mengembangkan komunikasi yang jelas, ramah, dan mudah dipahami, serta menjadikan inklusivitas sebagai bagian dari budaya kerja.

Ketiga hal tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, tetapi juga diterapkan secara konsisten dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Setiap pegawai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pelayanan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan penghargaan terhadap hak-hak masyarakat. Dengan demikian, masyarakat yang datang ke BBPOM di Denpasar tidak hanya memperoleh informasi dan solusi yang dibutuhkan, tetapi juga merasakan keramahan, kepedulian, dan penghormatan.

Kepala BBPOM di Denpasar berharap pelatihan ini dapat mendorong perubahan cara pandang sekaligus meningkatkan keterampilan komunikasi para petugas dalam memberikan pelayanan kepada kelompok rentan.

Pelayanan yang baik, menurutnya, akan membuat masyarakat merasa terbantu, sedangkan pelayanan yang tulus akan membuat masyarakat merasa dihargai.

Melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia dan penerapan komunikasi yang efektif, BBPOM di Denpasar berupaya terus menghadirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan pelayanan publik yang tidak hanya profesional, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kepedulian terhadap sesama. (Ekayani)

Sarana